OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.

Home
Profile
Programs
People Inside
Gallery
Downloads
Contact
Links

 

Info Pendidikan
 
Top!

Top!

Top!

Top!

Top!

Top!

Top!
   

You are here: Home arrow Programs arrow PERPUSTAKAAN KELILING
Perpustakaan Keliling PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 18 September 2008

Latar Belakang

Perpustakaan keliling LP3 Adaro-Pama bertujuan untuk mendongkrak minat baca masyarakat di area bisnis PT Adaro Indonesia. Hal ini didukung realitas tentang rendahnya minat baca masyarakat kita pada umumnya dan siswa sekolah kita pada khususnya.

Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability). Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah ini menjadikan kemampuan membaca rendah. Itulah yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini.

World Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, "Education in Indonesia - From Crisis to Recovery" (1998) melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, dilukiskan siswa-siswa kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Artinya, kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara lainnya.

Keadaan tersebut diperkuat dengan hasil  penelitian yang  lakukan oleh Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd. di desa-desa wilayah Sulawesi Selatan, seperti di daerah Galesong, Bantaeng, Tamalatea, Bisapu, dsb., beberapa waktu lalu. Dari sekira 2.000 kasus ada 30-an atau 1,5 persen anak lulusan SD yang tidak lancar membaca. Setelah diteliti proses beserta metodenya, termasuk pengetesan membaca dengan 250 kata, ternyata memang begitulah senyatanya. Artinya, benar-benar ada anak lulusan SD yang belum lancar membaca karena kemampuan membacanya memang rendah (Pikiran Rakyat, 23 Maret 2004).

Mengapa hal itu terjadi? Karena kebanyakan SD kita tidak memunyai koleksi buku-buku perpustakaan yang cukup sehingga tidak memotivasi siswa untuk membaca.

Kebanyakan atau bahkan hampir keseluruhan SD kita yang jumlahnya sekira 155 ribu tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai. Buku pelajaran dan buku bacaan umum tidak terkoleksi secara lengkap. Bahkan, banyak SD yang tidak memiliki ruang khusus untuk perpustakaan dan tidak memiliki petugas khusus yang mengelola perpustakaan. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa SD kita tidak memiliki kebiasaan membaca yang memadai.

Keadaan seperti itu ternyata juga terjadi pada siswa SLTP, SMU, dan SMK. Dan yang sangat ironis, tidak dimilikinya kebiasaan membaca yang memadai tersebut juga terjadi di kalangan perguruan tinggi, baik dosen maupun mahasiswanya. Beberapa perguruan tinggi kita memang memiliki perpustakaan dengan koleksi buku, jurnal, majalah ilmiah, dan terbitan lain dalam jumlah yang cukup, namun kebanyakan dari perguruan tinggi tidak memiliki fasilitas seperti itu. Kebanyakan mahasiswa dan dosen perguruan tinggi tidak memunyai kebiasaan berkunjung ke perpustakaan kampus, apalagi perpustakaan di luar kampusnya.

Kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Salah satu indikatornya adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1:30 dan di Sri Lanka angkanya 1:38. Artinya dalam soal membaca, masyarakat kita kalah dibandingkan dengan masyarakat negara berkembang lainnya seperti Filipina dan bahkan dengan masyarakat negara belum maju seperti Sri Lanka.

Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99 persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut.

Oleh UNDP, United Nations Development Programme, angka melek huruf telah dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI, human development index; dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa.

Dalam publikasi UNDP "Human Development Report 2003" (2003), Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Jelas sekali bahwa kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei. Belum maksimalnya kualitas bangsa ini antara lain disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita.

Apabila dirunut minat baca itu sangat berkait dengan kualitas bangsa. Pada satu sisi rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca masyarakat kita disebabkan rendahnya minat baca, di sisi lain rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca tidak mengondisikan kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan. Di samping itu, rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi menurunkan angka melek huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa.

Membangun perpustakaan keliling adalah sebuah upaya yang konkret dari PT Adaro Indonesia untuk mendongkrak minat baca. Tentu saja semua itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas masyarakatnya demi terwujudnya sebuah  masyarakat yang  sejahtera.

Tujuan dan Outcome

Tujuan

 1.   Merealisasikan komitmen PT Adaro Indonesia dan PT Pamapersada Nusantara dalam upaya pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan.

2.    Memberikan layanan informasi kepada masyarakat, siswa sekolah khususnya, dengan bantuan perpustakaan keliling  

3.    Menambah wawasan masyarakat, para siswa khususnya, tentang ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan sekolah dan keterampilan hidup keseharian.

Outcome

1.     Masyarakat, siswa sekolah khususnya, terbangkitkan minat bacanya, yang kemudian akan menjadi kebiasaan (reading habit).

2.     Masyarakat, khususnya para siswa, mendapatkan bahan bacaan secara  mudah, murah, dan menyenangkan.

3.     Masyarakat, khususnya para siswa, memiliki keinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan keahliannya, terutama yang bersangkutan dengan keahlian hidup mereka sehari-hari.

4.    Terjalinnya kerjasama yang erat antara perusahaan, pemerintah daerah dan masyarakat.

 Uraian Teknis

Perpustakaan keliling pada hakikatnya merupakan kepanjangan dari perpustakaan umum. Semua aspek manajemen yang berkaitan dengan perpustakaan umum dapat diterapkan pada perpustakaan keliling (Basuki, 1993: 41). Kegiatan teknis yang harus dipenuhi oleh perpustakaan keliling tersebut adalah:

1.    Pengadaan Mobil Unit

2.    Pengadaan Bahan Pustaka (Koleksi)

3.    Pengelolaan Bahan Pustaka

4.        Sirkulasi (Peminjaman dan pengembalian) Bahan Pustaka

 

Last Updated ( Monday, 22 September 2008 )
 
Next >